Primbon Dalam Sudut Pandang Islam

Bakinupdate.com - November 22, 2016
Primbon Dalam Sudut Pandang Islam

Bakinupdate.com, – Primbon sebagai budaya, kelahiran dan
perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Islam di Nusantara
khususnya Pulau Jawa. Primbon yang biasa disebut sebagai ‘ilmu slamet’
banyak mengadopsi nilai-nilai Islam dengan unsur Hindu dan Budha yang
masih melekat.

Pada mulanya primbon yang berupa catatan-catatan
pribadi hanya diturunkan dan diwariskan di lingkungan keluarga keraton
dan abdi dalem. Baru pada abad ke-20 primbon mulai dicetak dan diedarkan
secara bebas. Primbon cetakan tertua berangka tahun 1906 Masehi,
diterbitkan oleh De Bliksem.

Namun
sebagai sebuah buku yang tersusun sistematis, Primbon baru diterbitkan
pada tahun 1930-an. Dan sejak saat itu, primbon bukan lagi sekadar turun
temurun keluarga, tetapi sudah dijual bebas.

Meski mengatur
banyak hal, dewasa ini Primbon hanya dipahami sebagai buku untuk mencari
hari baik pernikahan atau pun hajatan lainnya. Dalam Primbon, hari baik
menjadi langkah dasar setiap usaha manusia.

“Zaman dahulu,
primbon itu sangat diyakini (masyarakat Jawa). Hal ini karena Primbon
didasarkan kelahiran setiap manusia. Setiap kelahiran seorang bayi itu
akan sangat dipengaruhi kekuatan alam, dalam arti lingkungan bumi,
planet-planet lain mempengaruhi orang atau watak bayi tersebut
nantinya,” ujar pemerhati Budaya Jawa, Mulyono kepada merdeka.com.

Oleh
karenanya dalam hal mencari hari baik, satu orang dengan orang lainnya
berbeda hari baiknya. “Ada hari-hari tertentu yang tidak baik untuk
orang tertentu, tetapi baik untuk saya. Bisa baik untuk saya tidak baik
untuk Anda. Dan itu ada rumusnya, bukan ngawang-ngawang,” ujarnya.

Dalam
primbon setiap hari dan pasaran memiliki angka (Neptu) masing. Hari
Minggu memiliki angka 5, hari Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6
dan Sabtu 9. Sedangkan pasaran, Kliwon memiliki neptu 8, Legi 5, Pahing
9, Pon 7 dan Wage 4.

Nah neptu weton (gabungan hari dan
pasaran) ini yang kemudian digunakan untuk menghitung dalam mencari hari
baik, calon jodoh hingga meramal sebuah bahtera rumah tangga.

Hal
ini tentu berbeda dengan pandangan Islam. Dalam Islam tidak mengenal
hari buruk. Semua hari adalah sama, baik. Lalu bagaimana pandangan Islam
soal primbon ini?

“Ketika ada masyarakat yang masih menggunakan
primbon sebagai rujukan mencari hari baik, menurut saya itu sah-sah
saja. Primbon itukan sebuah budaya dengan pertimbangan logika. Jadi
tidak apa-apa,” ujar Rois Syuriah Pengurus Besar NU, KH Ahmad Ishomuddin
kepada merdeka.com, Senin (21/11) kemarin.

Menurut Ahmad
Ishomuddin, selama tidak bertentangan dengan akidah Islam, sebuah budaya
tidak harus ditinggalkan. Dalam hal mencari hari baik untuk pernikahan
misalnya, pemilihan hari adalah sebuah kebebasan bagi manusia. Islam
hanya mengajarkan semua hari baik, dan selanjutnya terserah manusia
untuk memilih yang mana.

“Ya primbon itu kalau dipertentangkan
bisa jadi pertentangan, tetapi kalau mau diselaraskan pun bisa.
Tergantung kita melihatnya dari sudut pandang mana,” ujarnya.

Islam
sangat menghormati budaya yang selama hal itu tidak bertentangan dengan
akidah. Dia pun tidak sepakat bila ada cap musyrik bagi mereka yang
masih mempercayai hitungan-hitungan primbon.

“Tidak bisa kita
menyebut musyrik atau menyekutukan Allah karena dia menggunakan primbon
sebagai rujukan. Jangan buru-buru menghakimi sebelum kita tahu yang
sebenarnya. Biasanya yang buru menyalahkan menghakimi itu wawasannya
belum luas. Asal beda haram, asal tidak dilakukan nabi haram, tidak
seperti itu,” imbuhnya.

 https://www.merdeka.com/peristiwa/primbon-dalam-sudut-pandang-islam-eksistensi-primbon.html

Tinggalkan Komentar

Pics-Art-04-19-11-10-23