Oleh; DR. T. Murphi Nusmir, SH, MH
BAKINUPDATE.COM,- Mengawali awal tahun 2022, dinamika politik nasional akan semakin menarik. Dinamika politik akan kooperatif.
Ada dua alasan kesimpulan dari analisis tersebut. Pertama, dua tahun lagi tepatnya 2024 kita akan menyelenggarakan Pesta Demokrasi. Kedua, kandidat para calon presiden akan bergulir ke permukaan.
Para kandidat tersebut, di antaranya Anies Baswedan Sang Gubernur DKI Jakarta saat ini, Puas Maharani yang saat ini menjabat Ketua DPR, dan yang ketiga yaitu Ganjar Pranowo Gubernur Jateng.
Ketiga nama tersebut sekalipun belum dipastikan, namun opini capres sudah membentuk perhelatan ketiga faksi. Meskipun, ketiganya tidak terang terangan mengakui faksi-faksi itu.
Namun, tidak jarang dari ketika faksi tersebut muncul, ada beberapa pialang alias veteran politik mencari celah untuk masuk dalam satu kubu mencari muka.
Dua Matahari
Puan Maharani yang akhir akhir ini balihonya bertebaran di daerah, menjalankan Politik Pragmatis. Puan lebih memilih cara-cara etis dan normatif secara konstitusional berpegang kepada Aturan Partai.
Sekalipun majunya Puan belum dapat dipastikan, namun akar rumput di dalam Partai PDI Perjuangan hanya menunggu persetujuan Megawati selaku pemegang tertinggi.
Jika saja Megawati merekomendasi Puan maju sebagai Capres yang disetujui PDIP, apakah Ganjat Pranowo secara elegan menerima pilihan partai yang membesarkannya?
Persoalan di atas merupakan hal yang dilematis bagi PDIP. Partai pemenang pemilu tersebut akan menghadapi matahari kembar di dalam tubuh PDIP untuk Calon Capres.
Kita tahu bahwa Jawa Tengah merupakan basis ideologis partai PDIP, tentu saja diperlukan sikap kehatihatian. PDIP harus benar-benar mempertimbangkan tingkat basis, baik physykologis politis maupun etis.
Analisa Penulis adalah petinggi PDIP tidak terburu buru memutuskan capres dari dua kandidatnya. Oleh karena, kalau dalam melakukan kalkulasi politik maka akan membawa dampak yang significan bagi PDIP sendiri, di antaranya ancaman terjadinya keretakan.
Untuk hal ini, skema menjelang pada tahun politik ini patut dipertimbangkan untuk keutuhan partai dan jangan sampai terulang kembali kisah yang lama di tubuh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pasca kongres Medan yang lalu.
Politik Solar Anis
Low profile politik Anis ketika digadang gadang sebagai Capres 2024. Sama halnya seperti Puan Maharani dan Ganjar Pranowo, Gubernur Jakarta ini tidak terang terangan secara eksplisit siap dicalonkan. Akan tetapi, faksi Anis yang mendukung Anis bukannya hal yang muskil khususnya di wilayah DKI jakarta.
Kita tahu bagaimana terjadi dukungan Anis dari Banten dan wilayah Indonesia bagian timur muncul walaupun anis belum mencalonkan sebagai Presiden.
Namun, gerakan gerakan itu menjadi sinyal politik kepada calon presiden lain, baik Ganjar maupun Puan, khususnya PDIP.
Meskipun dukungan kepada Anis masih bersifat semu, PDIP ada baiknya cepat dan tanggap mengambil lagkah langkah taktis terutama menyelesaikan siapa yang akan dimajukan pada Pemilu 2024 mendatang.
Dalam politik, 2 (dua) tahun bukanlah waktu yang panjang untuk membangun peta politik. Karena kita tahu secara filosopis politik itu dinamis .
Maka dengan waktu yang sisa kurang lebih dua tahun lagi, penulis melihat momentum 2022 ini akan menjadi kalender politik baik dari kubu PDIP, Anis Baswedan, dan Garis tengah menentukan dukungan dari kedua kubu ini./Red
DR. T. Murphi Nusmir, SH, MH adalah alumni GMNI 1986