BAKINUPDATE.COM,- Bandung .- Perguruan tinggi nasional memiliki sebanyak 113.965 dosen ‘milenial’ (rentan usia 18-36 tahun) yang siap melaksanakan sistem perkuliahan jarak jauh berbasis internet (daring). Dengan mengacu pada data tersebut, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi semakin optimistis pelaksanaan kuliah daring bisa diterapkan dengan baik dalam rangka menghadapi Revolusi Industri 4.0.
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan DIkti Ali Ghufron Mukti menuturkan, Indonesia juga memiliki sebanyak 142.020 dosen generasi X (berusia 37-52 tahun) yang tidak akan kesulitan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Menurut dia, sistem perkuliahan daring menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi jika ingin bisa bersaing secara global di masa depan.
“Kami sudah melakukan pemetaan terhadap tenaga dosen untuk menghadapi perkuliahan dalam jaringan (daring). Pemetaan ini salah satunya didasarkan pada usia dosen. Saat ini jumlah dosen yang berusia 53 tahun hingga 71 tahun hanya sebanyak 24.381 dosen. Dosen yang kami sebut kategori baby boomers itu yang sulit beradaptasi dengan kemajuan teknologi,” ujar Ghufron di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu, 28 Februari 2018 seperti dikutip dari laman Pikiran Rakyat.
Ia menuturkan, pemetaan tenaga dosen tersebut bekerja sama dengan kementerian/lembaga terkait seperti Kementerian Agama. Pasalnya, tidak semua perguruan tinggi berada di bawah binaan Kemenristekdikti. Menurut dia, dalam melakukan pembinaan dan bimbingan agar para dosen tersebut dipersiapkan untuk melakukan pengajaran daring.
“Untuk dosen yang kategori milenial lebih mudah, karena akrab dengan dunia digital. Nantinya, dosen tak sekadar mengajar saja, tetapi lebih dari sekadar fasilitator yang membimbing mahasiswanya. Kami juga akan membentuk universitas siber (Cyber University) yang tugasnya memastikan kualitas dari pembelajaran daring,” katanya.
Ia menjelaskan, Universitas Siber dibangun untuk memastikan apakah perguruan tinggi yang menyelenggarakan perkuliahan daring sesuai dengan yang ditetapkan Kemenristekdikti.
Di antaranya terkait tutor, tatap muka hingga tugas yang diberikan. “Begitu juga dengan praktik laboratorium, nantinya apakah hanya model tiga dimensi atau jika perlu fisik kerja sama dengan laboratorium,” ucapnya.
Menristekdikti Mohamad Nasir mengklaim, ada sekitar 400 perguruan tinggi yang pada tahun ini sudah siap menggelar perkuliahan daring. Jumlah tersebut masih sedikit jika dibandingkan dengan total perguruan tinggi yang mencapai sebanyak 3.200 kampus.
Ia menuturkan, yang sudah menjalankan perkuliahan dari ada sebanyak 51 perguruan tinggi. “Dari 51 perguruan tinggi tersebut, sebanyak 32 perguruan tinggi milik swasta,” katanya.
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Asep Saefuddin menilai, perkuliahan daring dapat dapat meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi. Dengan SDM yang cukup dan kompeten, perkuliahan daring tidak akan menghadapi kendala besar.
“Tujuan program ini memberikan kontribusi sebanyaknya generasi muda dan kemampuan berpikir dengan iptek yang bermanfaat pada pengambilan keputusan, proses berpikir dan kesejahteraan. UAI menargetkan tahun ini diterapkan dan berharap semakin banyak mahasiswa yang ikut pembelajaran daring ini,” ujar Asep.***
Berita ini tayang di laman Pikiran Rakyat
Red/Amf