
Dia mencontohkan, seperti halnya kantor yang ke depannya perlu dipikirkan kembali apakah perlu atau tidak.
“Kantor nanti enggak diperlukan lagi, nanti yang punya kantor gede gede harus dipikirkan buat apa kantornya. Karena ke depan kantor sudah tidak diperlukan dengan teknologi yang ada. karena kerja pun bisa dari mana saja,” kata dia.
“Anak saya kalau sudah pegang gawai, kalau tengah malam masuk jam 1 jam 2 saya suruh tidur, Saya ini bukan main main lho pak, saya kerja lho ini. Bekerja pun dengan tidur, dengan gelongsor di lantai, itu bekerja zaman sekarang ini, tidak perlu lagi kantor, sudah bisa menjangkau seluruh daerah atau seluruh dunia, inilah redefinisi kantor,” tutur Jokowi.
Oleh karena itu transisi atau perkembangan teknologi yang begitu cepat harus segera diantisipasi tidak terkecuali oleh para pelaku industri jasa keuangan.
Jokowi juga mendorong OJK untuk terus menciptakan instrumen-instrumen pembiayaan. Salah satunya untuk pembangunan infrastruktur, sehingga APBN tidak terbebani.
“Kita akan terus dorong BUMN, BUMD, perbankan pusat dan daerah untuk mencari model-model pembiayaan alternatif, model pembiayaan kreatif terutama untuk pembiayaan infrastruktur. Jangan monoton terus, masih banyak model yang bisa kita pakai. Saya kira yang di atas sudah memulai sekuritisasi telah dilakukan, Komodo bond telah diberikan, kita akan coba lagi Limited Concession Scheme dikerjakan. Tidak semuanya tergantung dengan APBN,” tutup Jokowi.