Jadilah Generasi Bangsa Yang Cerdas, Bukan Pemangsa Berita Hoax

Bakinupdate.com - Agustus 31, 2017
Jadilah Generasi Bangsa Yang Cerdas, Bukan Pemangsa Berita Hoax
Staff Redaksi Media Bakin ( A. Musthopa F ,SH )
BAKINUPDATE.COM-Para Netizen
Yang Budiman, 
Dunia maya
kita sedang dilanda penyakit hati. Sampah informasi bertebaran secara masif
tanpa verifikasi dan konfirmasi. Hoax, sas-sus, fitnah, dan
hujatan bersahut-sahutan nyaris tiada henti. Informasi sumir yang sudah usang
datang silih berganti.

Penyakit ini
kini mewabah nyaris tak terperi. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika
RI, pada akhir 2016 terdapat sedikitnya 800 situs yang diduga menjadi produsen
virus hoax, berita palsu, dan ujaran benci.

Tersebar
melalui Facebook, Twitter, hingga grup-grup Whatsapp, virus itu langsung
menyerang otak mengoyak nalar insani. Bila terpapar virus ini, orang akan
mengalami skizofrenia informasi yang berujung lunturnya nurani. Hilang
kebijaksanaan akal dan keluhuran budi.

Padahal akal
dan budi adalah penentu seseorang, mampu tegak dalam jalur kemuliaan ataukah
terjerembab dalam kemudaratan. Makanya, penyakit hati sering disebut biang
segala masalah. Orang cerdas jadi tampak beringas, orang berilmu terjebak
saling berseteru, dan orang berbudi dicaci-maki.

Jempol
tangan bergerak tanpa kendali: mengamini setiap info tanpa verifikasi, lalu
menyebarkannya seolah semua orang peduli. Hal demikian bukan saja menghancurkan
persahabatan tapi juga memundurkan peradaban.

Sayangnya,
kondisi begini terjadi tanpa disadari. Persis ungkapan tokoh sufi Imam Al
Ghazali, “Penyakit hati itu laksana belang di wajah seseorang yang tak
punya cermin. Jika diberitahu orang lain pun, mungkin ia tak
mempercayainya.”

Pada suasana
batin tertentu, kebenaran tak lagi jadi penentu. Sebaliknya, segala alasan
dicari untuk membenarkan tindakan yang telanjur salah.

Dalam
kondisi begini, marilah mengingat sebuah kisah hikmah. Iblis awalnya dikenal
sebagai makhluk yang paling hebat beribadah, tapi justru dilaknat oleh Tuhan
Sang Pemberi Berkah. Sebabnya satu saja, hati iblis diliputi penyakit bernama
sombong: merasa lebih mulia daripada Adam.

Dalam kajian
semantik, sombong didefinisikan menolak kebenaran dan meremehkan orang
(Al-kibru batharul haqqi wa ghamtun naas). Semoga kita terhindar dari perilaku
iblis yang sok suci.

Saudara-saudariku
Yang Budiman,

Kita semua
sesungguhnya bersaudara. Saling terkait dalam tubuh seperti hubungan kaki,
tangan, kepala, dan anggota badan lainnya. Jika salah satunya sakit, yang lain
turut merasakannya. Karena itu, marilah berlatih empati agar selalu ingat pada
keadilan Ilahi.

Sesama
saudara, janganlah mencaci jika tak ingin dibenci. Jangan pula memfitnah karena
bakal terkena tulah. Bersikaplah bijak agar sadar di mana tempat berpijak.

Di zaman
digital, persaingan global makin bersifat total. Jika ingin jadi bangsa handal,
tiada pilihan kecuali meningkatkan kualitas diri secara optimal.

Jadikan air
bah informasi sebagai modal produktif menuju level lebih tinggi. Manfaatkan
jejaring sosial untuk bersinergi meningkatkan produktivitas dan mencapai
kesejahteraan bersama.

Janganlah
puas hanya menjadi generasi pemangsa berita bohong, penyantap kabar burung,
atau penikmat konten negatif lainnya.

Di era
kebebasan berpendapat dan bermedsos ria, berempati dan menggunakan rasa makin
perlu dilakukan bersama. Setidaknya untuk menjaga kata-kata agar tak melukai
sesama.

Aksi menebar
kabar hoax bukanlah sedekah yang berpahala. Sebaliknya, itu menabur
benih keburukan yang akan kembali pada diri kita semua. Kegemaran copas
(copy-paste) tidaklah terpuji karena bisa mematikan kreativitas semua kita.

Di sisi
lain, memanipulasi pesan dan mendistorsi informasi untuk memantik emosi
termasuk perbuatan tak terpuji. Berkomentar di medsos tanpa memperhitungkan
dampaknya juga mestinya dihindari.

Melatih
empati, dengan berpikir bahwa orang lain bisa terluka karena kalimat kita di
ranah maya, sama artinya melatih diri untuk menjaga hati.

Dunia maya
sejatinya adalah cermin hati. Aktivitas yang terekam di data digital adalah
gambaran dari isi pikiran yang biasanya tak nampak di dunia nyata. Ia ibarat
terminal yang menghubungkan perbuatan kita di dunia dengan tempat berlabuh di
akhirat sana.

Rekam jejak buruk berujung di neraka, rekam jejak
baik bermuara di surga. Alhasil, ketika memilih aktif di ranah maya, maka
seringlah berkaca: ke mana arah kita sesungguhnya?



Penulis : A Musthopa F ,SH 
Redaktur : Dwi Heri Yana



Tinggalkan Komentar

Pics-Art-04-19-11-10-23