Oleh: DR. T. Murphi Nusmir, SH, MH
BAKINUPDATE.COM,- Sejarah mencatat, PDIP adalah sebuah partai yang lahir dari antitese Kongres PDI Medan.
Pertarungan 2 (dua) Ratu politik antara Fatimah Akhmad dan Megawati yang diunggulkan membuat peguasa Soeharto jantungan.
Alhasil kongres itu menjadi kisruh karena Fatimah Akhmad yang di flot rezim berkuasa waktu itu, ditolak oleh kebanyak peserta kongres.
PDI terpecah Fatimah ahkmad pro Suryadi dan Mega didukung basis soekarnois.
Bentrok pun tak terelakan. Barisan pendukung megawati menduduki sektariat partai di jalan Diponegoro Jakarta Pusat.
Mereka berjuang berhari hari, siang dan malam berkumpul. Namun, di luar perhitungan politik rupanya pendukung Megawati lupa, bahwa mereka sudah diteropong penguasa yangg tak suka kehadiran mereka disana.
Tiada angin tiada hujan, suatu ketika mereka yang menguasai kantor pusat PDI diserang oleh orang yang tak dikenal. Akibat penyerangan itu banyak kader PDI Pro Mega menjadi korban.
Desas desus isue beredar bahwa penyerangan itu dilakukan orang-orang yang berbadan tegap dan berambut cepak.
Selain dilempar dengan batu bata, kantor PDI juga terbakar. Akibat peristiwa itu Gedung PDI dipoliceline dan distatus quakan.
Peristiwa di atas merupakan embrio sebagai Thesa cikal bakal lahirnya PDIP.
Setelah PDIP menjadi Partai tak disangka sangka barisan Nasionalis Soekarnois merapat ke PDIP termasuk beberapa simpatisan partai melebur ke dalam parta PDIP.
Tidak sulit bagi PDIP meraih kemenangan dalam Pemilu tahun 1999. Pada waktu itu dengan amunisi pengikut yang memerahkan di daerah daerah.
PDIP berhasil keluar sebagai pemenang Pemilu, walaupun pada akhirnya Gudur yang terpilih sebagai Presiden dan Megawati menjadi wakilnya.
Sejarah PDIP sebagai partai nasionalis yang terbentuk bukan merupakan hasil Fusi seperti terbentuknya PDI yang dibentuk oleh Soeharto.
PDIP bukan partai hasil fusi , akan tetapi mereka sebagian kurang lebih ada dari barisan partai partai seperti PNI, Murba melebur dalam PDIP.
Oleh karenanya PDIP tidak juga sebagai partai aliran di dalamnya.
PDIP lahir karenanya manifestasi perjuangan dalam perlawanan terhadap Rezim Slage Orde (orde baru).
Eksistensi PDIP yang sudah melewati tantangan sejarah politik dan menjadi pemenang pemilu, hendaknya PDIP dapat mengambil hikmah dari sejarah kelahiran PDIP pada masa lampau, dimana hakekatnya PDIP lahir dari perjuangan melawan orde baru yang saat Sang Rezim Orba berusaha untuk menggembosi masa PDI Pro Mega.
Dalam menghadapi Pemilu 2024 yang akan datang, PDIP bisa mengambil pelajaran atas apa yangg terjadi pada kongres PDI di Medan.
Peristiwa Kongres Medan jangan terulang lagi seperti peristiwa saat itu.
Munculnya Ganjar Pranowo dan Puan Maharani di dalam bursa Presiden dapat membawa implikasi yang significan.
Ganjar Pranowo yang menurut survai adalah tokoh yang mempunyai ratting tinggi untuk CalonPresiden mengungguli Prabowo dan Anies Baswedan.
Beberapa lembaga survei terkemuka merilis bahwa popularitas Ganjar Pranowo semakin hari semakin melejit.
Puan Maharani Presiden, Sang Ketua DPR yang juga putri Megawati tampaknya tertarik juga dalam mencalonkan kandidat presiden 2024.
Megawati selaku tokoh sentral setidaknya perlu menghitung kekuatan Ganjar Pranowo.
Yang terupdate ke publik sekarang, beberapa Partai sudah membuka karpet merah untuk Ganjar Pranowo.
Kita harus ingat, dalam politik tiada kawan abadi yang ada adalah kepentingan.
Penulis , Aktivis GMNI 86