Partai Koalisi Jokowi Adakan Pertemuan Di Istana, Perlukah Dikritisi?

Bakinupdate.com - Agustus 26, 2021
Partai Koalisi Jokowi Adakan Pertemuan Di Istana, Perlukah Dikritisi?

Oleh: DR. T. Murphi Nusmir, SH, MH

BAKINUPDATE.COM – Pertemuan partai koalisi pendukung Jokowi, tidak   ada yang istimewa. Pertemuan tersebut merupakan  pertemuan silaturahmi  biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Pertemuan  itu sebagai bentuk  ajang silaturahmi politik yang selama ini terjalin antara  koalisi dengan Jokowi yang memperlihatkan situasioanal  soliditas yang baik dan  kuat.

Meski pertemuan dalam soliditas yang baik, namun ada yang sedikit yang harus digarisbawahi, yakni pertemuan tersebut  diadakan di Istana Merdeka.

Tempat pertemuan   terkesan kurang tepat, mengingat istana merupakan lambang negara yang harusnya dijaga kehormatan dan kedudukannya   dari  kesan elitis dan politik primordial dan politik intres.

Kalau saya boleh menduga,  sepertinya ada agenda  design politik yang akan dibangun, yakni untuk melegitimasi kebijakan Presiden Jokowi pada masa yang  akan datang.

Dugaan lain, bisa saja Jokowi melakukan  trick Manuver kepada Megawati, sekaligus  Jokowi unjuk  kekuatan dan pesan politik kepada Megawati bahwa  Jokowi ada pedukung lain selain PDIP.

Secara politis dan matematis analisa politis tidak mungkin, karena mengingat bahwa Jokowi masih kuat mengandalkan PDIP baik untuk kondisional saat ini maupun dalam persfektif jangka panjang kepentingan politik Jokowi.

GIbran, Bobi merupakan  dua sosok muda penerus tahta jokowi.

Hal lain yang memungkinkan ialah mendorong amandemen UUD45, jika  opsi terakhir benar tidak pula diharamkan amandemen itu, karena UU tidak mengatur batasan – batasan boleh dan tidaknya amandemen UUD 45 dilakukan.

Namun, iklim demokratisasi dan cita – cita Reformasi yang  diperjuangkan pada tahun 1998 hanya menjadi cerita sejarah yang tak mengubah behavior politik di negeri ini.

Kehadiran tokoh tokoh reformasi yang duduk di perwakilan rakyat tidak mampu berbuat banyak karena pengaruh kolaborasi manial  kekuasaan.

Idealisme hanyut dengan kepentingan kekuasaan, bukankah salah tujuan reformasi politik adalah menegakkan konsistensi supermasi hukum?

Di negara kaya, hukum diharapkan mampu membatasi kesewenang wenangan.

Akan tetapi di negara hukum,  negara ini acapkali hukum dilemahkan lewat kolaborasii kekuasaa dan legislatif.

Akibat lemahnya legislatif yang kerap berselingkuh dengan kekuasaan, berakibat  peran dan fungsi pengawasan  menjadi lemah. Dan terjadi impotensi fungsi sehingga kontrol dan pengawasan  kepada kekuasaan menjadi mandul.

Jika pertemuan partai-partai di istana kemarin sepakat mendorong amandemen khususnya terhadap pembatasan jabatan Presiden yang semula 2 periode diubah menjadi 3 periode, inilah yang kita takutkan!

Maka kita sebagai rakyat, sudah sewajarnya untuk mengkritisi fenomena tersebut. Nalar kita harus bertanya, apakah keinginan amandemen itu sebagai keinginan pihak asing?

Rakyat semakin cerdas dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Rakyat hanya berharap kepada TNI untuk menyelamatkan bangsa dan Negara ini dari berbagai rongrongan, baik dari dalam maupun dari luar.

Semoga Indonesia Tumbuh kuat. Amin.

 

Penulis adalah seorang aktifis,  Alumni GMNI 1986.

 

Tinggalkan Komentar

Pics-Art-04-19-11-10-23