Kendati begitu, JK tak menampik bahwa pola kampanye masing-masing calon presiden belum masuk substansial ke program kerja. Menurut dia, pemaparan visi calon presiden biasanya baru akan dilakukan pada 2-3 bulan menjelang hari pemilihan. “Yang berdebat di tv itu masih timses, belum calonnya sendiri. Calonnya nanti kan 2-3 bulan sebelumnya baru. Nah itu baru bicara program di situ,” kata JK.
Setelah polemik politikus sontoloyo, Jokowi menyindir aksi para politikus yang gemar menyebar propaganda menakutkan. Jokowi menyebut cara politikus tersebut sebagai politik genderuwo. “Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwa,” ujar Jokowi.
Selain Jokowi, calon presiden Prabowo Subianto melontarkan ucapan kontroversial. Beberapa waktu lalu, Prabowo menyebut soal tampang Boyolali. Kontroversi yang muncul dari pidato wajah Boyolali ini pun dianggap menggambarkan atmosfer pilpres 2019 tak memiliki muatan yang substansial.
Dalam pandangan Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, pada pilpres kali ini, masyarakat jor-joran disuguhi oleh isu-isu dengan kualitas rendah. Temuan-temuan para capres untuk melawan kubu lawan pun ia nilai tidak relevan dengan kontestasi/tmpo
Red/amf